Kamis, 14 Januari 2010

Makalah pemanfaatan Teknologi Informasi di Bidang Pendidikan

Kata Pengantar
Alhamdulillah,segala puji dan syukur terpulang pada ALLAH, karena berkat Rahmat dan HidayahNya, makalah singkat ini bisa saya selesaikan.
Dalam era globalisasi seperti sekarang ini, pendidikan di Indonesia sudah mendominasi dalam pemanfaatan terhadap teknolgi informasi yang sedang berkembang pesat.Hal ini yang juga menimbulkan kemajuan dan efektifitas dalam pemajuan pendidikan itu sendiri.
Agar mencapai target pendidikan yang maksimal, lembaga pendidikan yang modern sebaiknya memiliki karakter yang dinamis memiliki keunggulan kompetitif memiliki Sumber Daya Manusia yang berkualitas unggul jasmani dan rohani Berkarya berdasarkan suatu sistem manajemen kepartaian modern memanfaatkan teknologi sebagai sarana membangun keunggulan kompetitif.
Teknologi yang mampu untuk mendukung pendidikan agar mencapai target yang diinginkan adalah Teknologi Informasi (TI).


Pemanfaatan Teknologi Informasi di Bidang Pendidikan


Teknologi Informasi dan Perguruan Tinggi


Teknologi informasi berkembang dari perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Sebagai contoh World Wide Web (WWW), Hypertext Markup Language (HTML) dan Hypertext Transfer Protocol (HTTP) yang menjadi modal meledaknya Internet dikembangkan oleh Tim Berners-Lee di CERN (Pusat Penelitian Fisika Partikel), Swiss. Internet sendiri berasal dari universitas dan lembaga penelitian dari Departemen Pertahanan Amerika. Sudah jelas pemanfaatan teknologi informasi di perguruan tinggi dan lembaga penelitian bukanlah suatu hal yang baru di luar negeri. Namun di Indonesia teknologi informasi ini, Internet misalnya, muncul pertama kali dalam kemasan komersial (Internet Service Provider) sehingga pemanfaatannya di perguruan tinggi baru muncul belakangan.
Pemanfaatan teknologi informasi di perguruan tinggi antara lain adalah sebagai alat bantu untuk proses administrasi dan pendidikan. Komputer, database, sistem informasi kemahasiswaan digunakan untuk membantu proses administrasi. Surat menyurat dan pengarsipannya sudah dilakukan dengan menggunakan komputer dan printer. Di kota besar, jarang ditemui perguruan tinggi yang masih menggunakan mesin ketik untuk menuliskan surat. Meski demikian komputer bukan hanya sebagai pengganti mesin ketik. Jika komputer diambil, proses administrasi akan terganggu. Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan komputer untuk proses administrasi sangat esensial di banyak perguruan tinggi.
Di sisi pendidikan, program komputer digunakan untuk membantu dosen dalam memberikan mata pelajaran, presentasi dan memberi nilai. Sebetulnya, pendistribusian materi kuliah lebih murah jika dilakukan dengan CD-ROM daripada dengan menggunakan kertas. Sebagai contoh harga CD-ROM kosong adalah sekitar Rp 3000,-, sementara itu uang yang sama hanya bisa digunakan untuk fotocopy 30 atau 50 halaman saja. Sayangnya alat baca CD-ROM ini masih berbentuk komputer yang harganya relatif mahal dan tidak mudah dibawa-bawa sebagaimana kita membawa kertas. Penelitian sedang berlangsung untuk membuat alat baca digital yang setara dengan kertas konvensional ini.
Materi kuliah yang diletakkan di jaringan komputer atau Internet juga dapat melebarkan jangkauan pengajaran. Istilah e-learning biasanya digunakan untuk aplikasi ini. Sebagai contoh dari pendekatan ini, materi kuliah saya tersedia di Internet . Materi ini ternyata digunakan oleh pengajar dan mahasiswa dari tempat lain. Sekali-sekali saya mendapat pertanyaan dari mereka melalui e-mail.
Di bidang penelitian, teknologi informasi digunakan untuk mempercepat dan mempermudah proses penelitian. Kolaborasi peneliti yang dulunya harus dilakukan dengan bertemu secara fisik atau menggunakan surat menyurat yang lamban sudah digantikan dengan penggunaan Internet. E-mail dan mailing list sudah menjadi bagian dari kehidupan perguruan tinggi. Jika dahulu saya harus ke perpustakaan untuk mencari literatur atau harus melakukan interlibrary loan jika perpustakaan setempat tidak memiliki makalah yang saya cari, maka sekarang beberapa makalah sudah dapat diperoleh melalui Internet. Situs seperti Citeseer memungkinkan saya untuk mendapatkan makalah klasik di bidang ilmu komputer tanpa perlu bersusah payah melakukan interlibrary loan yang mahal dan lambat. Organisasi profesional yang menerbitkan jurnal seperti IEEE dan ACM mulai mengembangkan digital library yang dapat diakses oleh anggotanya. Jurnal, majalah, proceedings, dan karya ilmiah yang dikelola oleh organisasi tersebut mulai dapat diakses secara on-line. Konferensi dan jurnal sudah menggunakan e-mail untuk pengiriman makalah.
Selain menggunakan teknologi informasi, beberapa perguruan tinggi juga mengembangkan ilmu dan teknologi informasi itu sendiri. Ini dilakukan oleh perguruan tinggi yang memiliki jurusan yang terkait dengan ilmu komputer. Berbagai software dan hardware baru banyak tumbuh dari perguruan tinggi. Perusahaan start-up pun mulai muncul dari perguruan tinggi.
Selain mengembangkan bidang teknologi informasi perguruan tinggi juga mengembangkan bidang penelitian baru seperti Genome research, Bioinformatics, dan sejenisnya dengan bantuan teknologi informasi. Bidang-bidang seperti ini hanya dapat tumbuh dengan pesat dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi. Ukuran data yang besar dalam penelitian genome memaksa peneliti untuk mengembangkan database yang dapat mengakomodasi data tersebut dengan efisien. Kolaborasi untuk menganalisa data-data tersebut juga menggunakan bantuan komputer yang tersebar di seluruh dunia dengan menggunakan Internet.
Sumber Daya Manusia (SDM) yang menguasai teknologi informasi juga menjadi produk dari perguruan tinggi. Kadang-kadang justru ini yang menjadi produk utama dari perguruan tinggi.
Semua ini menunjukkan bahwa perguruan tinggi erat hubungannya dengan teknologi informasi, baik dari segi pemanfaatannya maupun dalam pengembangannya.
Strategi Pemanfaatan Teknologi Informasi
Penggunaan teknologi informasi di sebuah institusi pendidikan bisa berbeda-beda bergantung kepada kemampuan dan bidang yang ada institusi itu sendiri. Bisa jadi sebuah fakultas, departemen atau jurusan di sebuah perguruan tinggi hanya menggunakan produk teknologi informasi saja tanpa perlu mengembangkannya. Contoh jurusan yang hanya menggunakan teknologi informasi antara lain bidang hukum, sastra, dan masih banyak lainnya. Untuk lingkungan yang seperti ini, disarankan untuk membeli atau menggunakan produk teknologi informasi yang sudah jadi yang terbaik di bidang itu. Mereka tidak perlu mengembangkan produk atau teknologi sendiri dan sebaiknya fokus kepada bidangnya.
Untuk institusi pendidikan yang memiliki bidang teknologi informasi (atau yang terkait) ada pilihan lain, yaitu mengembangkan produk sendiri. Ketersediaan SDM memungkinkan mereka untuk mengembangkan dan menggunakan produk sendiri. Untuk institusi seperti ini disarankan untuk melakukan eksplorasi pengembangan produk teknologi informasi sendiri sebagai alternatif dari hanya membeli saja.
Institusi pendidikan perlu menghitung nilai investasi dari produk teknologi informasi yang akan digunakan dan manfaatnya. Sedapat mungkin kesemuanya ini dikuantisasi (quantified) dalam bentuk nilai uang (Rupiah). Harapan pendekatan ini adalah dapat diperoleh sebuah gambaran Return On Investment (ROI) dari pemanfaatan teknologi informasi ini sehingga penerapannya tidak sia-sia. Pertanyaan yang dapat membantu untuk memfokuskan institusi antara lain:
• Apa nilai tambah (value added) yang diperoleh dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi tersebut? Apakah nilai tambah ini lebih besar dari nilai investasi?
• Apakah dengan adanya pemanfaatan teknologi informasi tersebut kita menjadi lebih unggul dari perguruan tinggi saingan (misalnya dengan saingan perguruan tinggi di Singapura seperti NUS/NTU)?
Pemilihan Software di Perguruan Tinggi
Software merupakan salah satu bentuk implementasi dari teknologi informasi yang paling banyak digunakan. Berbagai software digunakan di lingkungan perguruan tinggi, mulai dari software untuk keperluan perkantoran (office automation, sistem informasi), untuk keperluan pendidikan (presentasi, dokumentasi, penilaian), sampai untuk kepentingan khusus (simulasi, prototype produk). Software ini dapat dikembangkan sendiri atau dibeli jadi.
Di Indonesia, masalah pengguaan software ini dikaitkan dengan mulai diterapkannya UU HaKI dan banyaknya penggunaan software bajakan, termasuk di perguruan tinggi. Banyak sudah argumentasi yang dilontarkan mengenai situasi banyaknya pembajakan ini, seperti “kami tidak mampu membeli produk asli”, “harga produk asli sangat mahal”, “mengapa software harus bayar?”. Kemudahaan dan kebiasaan mendapatkan software copyan dengan harga yang sangat murah merupakan salah satu kesulitan utama.
Di satu sisi, perguruan tinggi melakukan pelanggaran HaKI dengan menggunakan software bajakan. Di sisi lain perguruan tinggi juga mengharapkan agar temuannya – dalam bentuk HaKI – dihargai dan tidak dibajak. Ketidak-konsistenan ini merupakan masalah yang dihadapi perguruan tinggi saat ini. Untuk itu beberapa perguruan tinggi mencari alternatif lain seperti penggunaan software yang gratisan atau open source.
Belakangan ini mulai muncul perdebatan mengenai dua kubu model pengembangan dan lisensi software; closed (proprietary) source dan open source . Model pengembangan kode tertutup (closed source) biasanya dikaitkan dengan produk yang komersial, meskipun ini bukan keharusan, dimana source code (kode sumber) dari software tidak boleh diketahui oleh siapa pun kecuali oleh pengembang. Sementara model kode terbuka (open source) memperkenankan orang untuk melihat sumber kodenya. Produk open source ini biasanya dikaitkan dengan produk yang gratisan, meskipun ini bukan keharusan juga. Biasanya perdebatan ini dikaitkan dengan sistem operasi Microsoft Windows yang tertutup dan komersial melawan sistem operasi Linux yang terbuka dan gratis. Pengembangan software yang bersifat open source berkembang dengan pesat sehingga hampir semua aplikasi komersial memiliki alternatif open source-nya.
Di bawah ini ada sedikit perbandingan mengenai pro dan kontra penggunaan software dengan kode tertutup dan kode terbuka. Poin yang ada masih bisa diperdebatkan. Kedua kubu tentunya memiliki alasan atau sanggahan. Ini diluar lingkup bahasan dari makalah ini.

Dikuti dari:
http://budi.insan.co.id.
http://citeseer.ist.psu.edu
http://www.ieee.org
http://www.acm.org
http://www.ieee.org


Penutup
Teknologi Informasi adalah salah satu pilar utama yang memiliki peran penting agar pendidika di Indonesia dapat lebih menunjang untuk masa depan.Namun disamping itu,TI juga memiliki beberapa dampak buruk bagi kita jika tidak dikelola secara hati-hati dan bijaksana.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar